[REPOST FF] 안녕하세요

POSTER8

 

안녕하세요

By: Bubble G | @_GiJii

“Yook Sungjae” (BTOB) “Kim Namjoo” (A-Pink) Kim Seok Jin (BTS)

Romance | Tragedy | Teens

Vignette

[Cast Bukan milik saya, tapi cerita seutuhnya milik saya^^]

“Annyeonghaseyo, Sungjae-ah!”

“Uhuk uhuk—“

Sungjae menolehkan wajahnya, menatap si gadis mungil berambut pendek yang kali ini tepat berada di sebelahnya. Sungjae menatap gadis itu lamat lamat. Sedangkan sang gadis… Umm Well, sepertinya ia tak menyadari bahwa saat ini pemuda tinggi di sebelahnya tengah memerhatikan dirinya.

“Hatchii!” Lagi lagi gadis itu bersin—Sungjae yang melihatnya jadi sedikit iba. Bagaimana tidak? Sudah tiga jam ia ditemani oleh suara batuk dan bersin yang dikeluarkan oleh gadis mungil itu.

Sungjae menyergah saku celananya, mengeluarkan sebuah sapu tangan merah dari celananya. Di berikannya sapu tangan itu pada sang gadis. Sedangkan sang gadis hanya mengerjab ngerjabkan matanya tak mengerti. “Ini, kupinjamkan sapu tangan.”

Gadis itu menatap manik obsidian milik Sungjae lekat lekat, tampak sekali kilatan cerah di matanya. Detik selanjutnya gadis itu mulai menarik sudut bibirnya, membentuk senyuman hangat—yang terlihat sangat cantik di mata Sungjae.

“Terimakasih! Kau baik sekali!” ujar gadis itu girang seraya mengambil sapu tangan merah tadi dari tangan Sungjae. Senyuman Sungjae mengembang tatkala melihat ekspresi senang yang ditunjukkan oleh gadis mungil tadi.

Sungjae mengulurkan tangannya lagi, membuat si gadis mungil lagi lagi bingung dibuatnya. “Namaku Yook Sungjae, namamu?”

Gadis itu tersenyum dan membalas uluran tangan Sungjae, menjabat tangan Sungjae yang faktanya terlihat lebih besar dari tangan mungil milik sang gadis. “Kim Namjoo—Panggil saja Namjoo,”

Sungjae menarik sudut bibirnya, membuat sebuah senyuman hangat di bibirnya, “Kau tinggal dimana, Namjoo?”

“Aku? Aku tinggal di Seoul,” ucap Namjoo riang diikuti dengan suara batuknya tepat setelah itu. Sungjae menyerngitkan alisnya, menatap kasihan kepada Namjoo. Kalau dilihat lihat, gadis kecil ini sudah mengenakan jaket yang tebal. Kenapa ia masih saja kedinginan?

“Kau tinggal dimana, Sungjae?”

Sungjae tersadar dari lamunannya, ditatapnya manik onyx milik Namjoo. “Eh? Aku?”

Namjoo mengangguk, “Ne, memangnya siapa lagi, eoh?”

Sungjae menggaruk garuk tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal itu, “Aku tinggal di Seoul juga, hehehe..”

Namjoo mengangguk, dalam benaknya ia merasa beruntung bisa tinggal di tempat yang sama dengan pemuda berhati malaikat di sebelahnya ini. “Bisakah kita bertemu kembali?”

Sungjae membulatkan bola matanya tak percaya mendengar perkataan Namjoo. Bagaikan orang yang paling beruntung sedunia, Sungjae melonjak lonjak bahagia dalam hatinya. Oh god, gadis manis di sebelahnya ingin bertemu dengannya lagi! Mimpi apa dia semalam ya tuhan!?

“Bo-Boleh, kapan? Dimana?” tanya Sungjae bersemangat, ada semburat kemerahan di pipinya. Namun dua sejoli itu bahkan tidak menyadarinya.

Namjoo terdiam sejenak. “Bagaimana setiap malam minggu, di depan pelabuhan ini?”

Sungjae mengangguk senang. Siapa yang bakal melewatkan kesempatan besar seperti ini eoh? Tidak ada. Dan Sungjae akan menggunakan kesempatan besar itu dengan sebaik baiknya.

“Deal!”

Dan pelabuhan ini menjadi saksi bisu atas perjanjian mereka.

.

.

.

Sungjae merapatkan jaket tebalnya—sudah dua jam dia menunggu di sini. Nafasnya-pun mengepul. Well, udara di Seoul saat musim dingin seperti ini memang teramat sangat dingin pemirsa! Bahkan, sesekali Sungjae menggosok-gosokkan tangannya supaya terasa lebih hangat.

Sungjae melirik kearah jam untuk kesekian kalinya. Ia menghela nafas panjang begitu melihat si jarum pendek tengah menunjuk angka 10 di jamnya. Sungjae jadi terlihat semakin gusar—ia ragu apakah gadis mungil yang telah mencuri hatinya minggu kemarin itu akan datang kembali menemuinya. Pasalnya sudah dua jam ia menunggu!

“Hahh—mungkin dia takkan datang,” bisiknya lirih. Ia segera beranjak dari bangkunya sembari membersihkan jaketnya yang terkena salju. Sungjae beranjak pergi dari tempatnya. Namun suara menggemaskan itu lagi lagi membuat Sungjae terhenti.

“Annyeonghaseyo!”

Sungjae membalikkan tubuhnya, menatap gadis pujaan hatinya tengah melambai lambaikan tangan kearahnya. Senyuman Sungjae mengembang. Dengan hati berbunga bunga akhirnya Sungjae kembali untuk menemui sang gadis.

“Namjoo-ah!” pekiknya girang, ia segera berlari kearah Namjoo dan merengkuh tubuh mungil itu. sementara Namjoo hanya bisa memasang tampang bodohnya karena ia tak tahu harus berbuat apa.

“Mianhae Sungjae-ah! Aku agak terlambat. Apa kau sudah lama menunggu?” akhirnya Namjoo angkat bicara. Sungjae yang mendengar suara Namjoo jadi tersadar akan gerakan refleknya. Dengan cepat Sungjae segera melepas tubuh mungil Namjoo dari pelukannya.

“A-anhi, aku baru saja menunggu!”

Bohong. Kau sudah menunggu dua jam Yook Sungjae!

Namjoo menarik nafas lega mendengarnya. “Ahh—begitukah? Syukurlahh.. Hatchuu!”

Sungjae mengerjabkan kedua matanya—rupanya Namjoo belum sembuh dari penyakit bersinnya. Sungjae menyergah saku celananya—berusaha mencari sapu tangan dari sakunya.

“Ah—tak perlu repot repot Sungjae-ah! Aku bawa sapu tangan! Hatchuu!” dengan cepat Namjoo mengeluarkan sapu tangan biru dari kantung jaketnya. Sungjae hanya tersenyum lega melihatnya. Ahh, dia akan benar benar panik jika terjadi sesuatu pada Namjoo-nya itu.

Namjoo-NYA? Seharusnya kau sadar diri Yook Sungjae!

“Jadi—kita mau kemana? Jalan-jalan? Nonton?” Sungjae kembali angkat bicara. Memecah keheningan diantara mereka.

“Sepertinya.. Nonton di Bioskop menyenangkan juga,”

“Baiklah, kajja!”

.

.

.

“Arghh—“

“Ya! Yook Sungjae! Kau tahu sendiri kan kopi-nya panas?! Minumlah pelan-pelan!” seorang wanita paruh baya kini tengah berkacak pinggang di hadapan Sungjae. Sungjae yang melihatnya hanya bisa menunjukkan cengiran kekanak-kannya. Membuat wanita paruh baya di hadapannya hanya berdecak sebal karena kelakuan Sungjae yang menurutnya sangat kekanak-kan.

Sungjae kembali menyeruput kopi-nya, namun yang kali ini lebih hati hati. “Ahh—Nde eomma, terimakasih sarannya. Tapi aku sangat buru-buru sekali.”

Wanita paruh baya yang bernotabane sebagai Ibu dari Sungjae hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan sang anak yang sangat terburu-buru. Bagaimana tidak? Jaketnya saja terpasang terbalik!

“Aih—“ Akhirnya Ibu Sungjae-pun mendekati sang anak, dibenarkannya jaket Sungjae yang terbalik tadi. “Mau kemana-eoh?”

Sungjae tersenyum manis memandang sang Ibu, “Bertemu seseorang, bu?”

“Perempuan, ya?”

Sungjae hanya mengangguk-kan kepalanya mengiyakan, sang ibu-pun hanya tersenyum memandang sang anak. Ah, anaknya sudah dewasa.

“Siapa? Teman Kampus-kah?” Wanita paruh baya itu mulai merapihkan jaket yang dikenakan Sungjae—well, sang ibu ingin anaknya terlihat sempurna di mata gadis-nya nanti.

“Anhi—“

“Lalu? Pacarmu-kah?”

Sungjae terdiam. Dia bingung harus mengatakan apa. Ia begitu peduli pada si gadis—Sangat peduli! Padahal—antara dia dan si gadis, sebenarnya tidak ada status yang apa-apa. tapi kenapa? Dia selalu merasa bahwa si gadis hanyalah miliknya?

Ah, cinta benar benar buta. Iya-kan Yook Sungjae?

Sungjae menarik senyuman di bibirnya, “Doakan saja ne, eomma.”

.

.

.

“Hahh—“

Minggu ke-3 semenjak pertemuan mereka. Dan ini adalah ketiga kalinya bagi Sungjae untuk menunggu si gadis selama dua jam di depan pelabuhan ini. Dan Sungjae sama sekali tak keberatan untuk menunggu si gadis. Sama sekali tak keberatan.

“Annyeonghaseyo!”

Sungjae membalikkan tubuhnya—menatap si gadis mungil dengan jaket tebalnya tengah melambai-lambaikan tangan kearahnya. Dengan hati berbunga bunga akhirnya ia berlari menuju si gadis.

“Namjoo-ah!” pekik Sungjae girang, dipeluknya tubuh mungil Namjoo dengan erat. Namjoo hanya terkikik geli melihatnya—dipeluknya tubuh Sungjae yang dua kali lebih besar darinya dengan erat.

“Mau kemana kita sekarang, Namjoo?” Sungjae melepas pelukan si gadis. Menatap manik onyx milik sang gadis.

“Kita bermain di taman bermain seperti kemarin saja!”

“Baiklah!”

.

.

.

“Ahahaha—ini benar benar menyenangkan, uhuk!”

Sungjae menyerngitkan alisnya, menatap sosok Namjoo yang setiap hari bertambah kurus saja. Ia menepuk-nepuk bahu Namjoo—mengisyaratkan Namjoo supaya duduk di bangku dulu.

“Ahh—Sungjae-ah, Minggu depan, aku tidak bisa datang menemuimu,” ucap Namjoo seraya merebahkan punggungnya di bangku yang didudukinya.

“Ah gwenchana,” ucap Sungjae dengan senyuman manis di bibirnya. “Eum.. Tapi… Bolehkah aku meminta nomor handphone-mu?”

Namjoo mengerjab-kerjabkan matanya berulang kali sebelum akhirnya seulas senyuman mengembang di bibir tipisnya, “Tentu saja boleh!”

.

.

.

Hari ini hari Jum’at. Dan sepertinya Sungjae sama sekali tak bisa bangkit dari tempat tidurnya. Kepalanya terasa pusing, badannya panas, mukanya tampak pucat. Sepertinya ia terkena demam karena terlalu sering pergi malam-malam.

Well, semenjak Namjoo memberikan nomor handphonenya. Mereka selalu pergi jalan jalan keluar setiap malam. Dan itulah yang membuat Sungjae sampai demam begini.

“Anhi, handphonemu aku kembalikan setelah kau sumbuh, Yook Sungjae!” kali ini Ibu Sungjae sedang tak berpihak pada anaknya. Poor you, Yook Sungjae.

“Aishh—“

.

.

.

Sungjae mengetuk ngetuk meja belajarnya bosan. Diratapinya terus handphone berwarna putih kepunyaannya. Menunggu telfon dari seseorang.

Tepatnya, ia menunggu telfon dari Kim Namjoo.

Sungjae menghela nafas lesu tatkala melihat jarum pendek tengah menunjuk ke angka sebelas pada jamnya. Ia merebahkan tubuhnya ke kasur king size-nya. Memeluk bantal putih kepunyaannya.

Mungkin sudah tidur,’ batinnnya dalam hati.

Sungjae memejamkan matanya—mencoba terlarut dalam tidurnya.

Bepp..Bepp..

Sungjae segera meraih handphonenya ketika dirasakannya ada panggilan masuk. Ia terdiam memandang layar handphonenya—seulas senyum terukir di bibirnya,

Incoming Call
NamJoo

Dengan hati berbunga bunga akhirnya Sungjae menekan tombol hijau pada layar handphone-nya. Menunggu orang di sebrang mengatakan sesuatu padanya.

Hening.

Sungjae menyerngitkan alisnya, biasanya setelah ia mengangkat panggilan dari Namjoo—pasti akan terdengar “Annyeonghaseyo!”—khas suara Namjoo. Namun, kenapa Namjoo hanya diam? Sakitkah?

Sungjae hanya diam. Menunggu suara khas milik Namjoo merambat menuju gendang telinganya.

Diam.

Detik selanjutnya pun hanya diam.

Sungjae mendengus kesal—mungkin Namjoo sedang mengerjainya sekarang. Tangannya bergerak menuju tombol merah pada layar handphone-nya—

“Annyeonghaseyo.”

Gerakan Sungjae terhenti. Suara rapuh nan lirih terdengar dari ujung Telfon. Dan Sungjae sama sekali tak mengenali suara ini.

“N-Namjoo?”

Hening.

Tak ada jawaban.

“Sungjae-ah, bisa ketemu di pelabuhan sekarang?” sungjae meneguk ludahnya. Suara ini bukan suara Namjoo—suara ini benar benar dingin dan menakutkan!

“S-siapa ini?”

Hening.

“Sia—“

“Namjoo,” suara itu kembali menjawab.

Sungjae menyerngitkan alisnya—kali ini ia meragukan sosok yang mengaku sebagai Namjoo itu. “Ada apa dengan suaramu?”

Lagi lagi tak ada jawaban. Dan ini membuat Sungjae sedikit panik.

“Aku sakit—baru saja dari dokter,”

Sungjae menarik nafas lega. Ia kira yang menghubunginya sekarang adalah hantu. Ckck, Yook Sungjae.. sepertinya kau terlalu banyak menonton film horror.

“Sungjae-ah.”

Sungjae tersadar akan lamunannya. “Ne?”

“Temani aku pulang—Aku takut,”

Sungjae terkekeh pelan mendengarnya, “Baiklah, aku akan kesana.”

“Baiklah, kutunggu.”

Tutt…

Telfon terputus dari sebrang. Sungjae segera memasukkan kembali handphonenya kedalam saku celananya dan menyambar jaket tebal di kursinya.

“Tunggu Namjoo—aku akan datang secepatnya.”

.

.

.

“Namjoo?”

Sungjae mendapati Namjoo yang tengah berdiri sembari memerhatikan pelabuhan dengan seksama. Wajahnya pucat—mungkin karena udara dingin dan karena ia terlalu lama menunggu Sungjae.

Namjoo menatap manik obsidian milik Sungjae, dipeluknya tubuh Sungjae dengan erat. Sedangkan Sungjae tak segan segan membalas pelukan dari Namjoo.

“Aku kedinginan,” celetuk Namjoo pelan. Dipeluknya Sungjae semakin erat. Sungjae tersenyum melihatnya.

“Baiklah, ayo pulang. Dan kau segera istirahat, ne?”

.

.

.

Ini adalah minggu ke 3 semejak kejadian Namjoo sakit. Dan Sungjae takut menghubungi Namjoo—ia takut mengganggu acara istirahat Namjoo. Well, Sungjae benar benar takut jika terjadi sesuatu pada Namjoo.

“Yak! Yook Sungjae! Kenapa jadi malas-malasan begini, eoh!”

Sungjae memutar bola matanya bosan mendengar celotehan panjang dari sang ibu, “Namjoo sakit, eomma.”

Sang ibu hanya menggeleng gelengkan kepalanya melihat kelakuan Sungjae, “Terus kenapa? Kenapa tidak di jenguk?”

Sungjae menepuk jidatnya. Menyadari betapa bodoh dirinya sekarang ini.

.

.

.

“Nuguseyo?” Sungjae menyerngitkan alisnya begitu yang menyambutnya bukanlah sosok gadis idaman yang sedang dipikirkannya dari tadi. Tapi sesosok Namja tampan yang tidak terlalu tinggi darinya.

“Namaku Yook Sungjae—teman Kim Namjoo.”

“Ahh—Jadi kau Sungjae yang diceritakan Namjoo, aku Seok Jin, kakaknya.”

Sungjae menyunggingkan senyuman terbaiknya kepada sang calon kakak ipar. “Bisa aku bertemu Namjoo sekarang?”

“Eh.. Namjoo..Dia..”

.

.

.

Namjoo sudah meninggal.

Sungjae menyerngitkan alisnya tak mengerti. Bagaimana bisa calon kakak iparnya mengakatakan begitu! Ia sama sekali tak mengerti!

Lebih tepatnya—Sungjae tak percaya.

Bagaimana tidak? Katanya kematian Namjoo terjadi saat Sungjae sakit. Dan ini karena ia gagal oprasi. Namjoo terkena kanker paru paru tingkat akut. Bagaimana bisa? Padahal hari minggunya ia pergi untuk mengantar Namjoo sampai rumahnya.

Lalu siapa yang ia antar sampai rumah Namjoo.

Han..tu…kah?

“Annyeonghaseyo!”

DEG!

Suara ini sudah tak terdengar familiar lagi di telinga Sungjae. Sungjae sangat mengenali suara ini.

“Annyeonghaseyo!”

DEG!

DEG!

Sungjae merasakan jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya. Dengan perlahan ia membalikkan punggungnya—

“Annyeonghaseyo!”

DEG!

DEG!

DEG!

Sosok gadis mungil dengan wajah pucat dan jaket tebalnya—dan juga oh..

Kakinya yang tak menyentuh tanah.

“Annyeonghaseyo, Sungjae-ah!”

Ne, itu Kim Namjoo.

THE END!

FF Macam apa ini T^T) Maaf ya jelek~ Ini FF Horror kedua-ku! ^^
Mungkin ini ga pantes di bilang horror orz..
Mianhae! *bow*

Tolong berikan comment untuk ff ini ne! J

Kritik dan saran ditunggu^^

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s