[REPOST FF] MY MOM

POSTER10

 

“MY MOM”

By: Bubble G

Main Cast
Song Joong Ki

Support Cast
Kim Yoo Jung (Joong Ki’s sister)
Kang Sora (Joong Ki’s mother)
Choi Jin Hyuk (Joong Ki’s father)
Kim Ji Won
Kim Woo Bin (Jiwon’s father)

Family | Tragedy | (a little bit) Gore | Teens

Vignette

[Cast Bukan milik saya, tapi cerita seutuhnya milik saya^^]

“Bodoh! Itu anak pembantuku!”

“Pada usia 18 tahun, Aku benar benar membenci ibuku dan sama sekali tidak takut padanya!”

Namaku Song Joong Ki.

Aku adalah seorang bocah berumur lima tahun yang masih menyukai bagaimana kereta mainanku bergerak sesuai jalur rel-nya. Bocah yang masih menyukai bagaimana kotak musiknya bermain jika kuncinya diputar. Bocah lima tahun yang masih menyukai permainan petak umpet. Bocah lima tahun yang masih menyukai tamiya-nya berjalan dengan batrai. Bocah lima tahun yang sangat suka dimanja.

Bocah lima tahun—yang membutuhkan kasih sayang.

“Joongki-oppa!”

Aku melepaskan mobil mainanku dan membiarkannya berjalan lurus sesuai dengan arah yang sudah kutentukan. Aku menolehkan wajahku—menatap si bocah cantik dengan rambut hitam panjang yang mempercantik dirinya. Aku menyunggingkan senyuman hangatku. Menghampiri si gadis yang bernotabane sebagai ‘Adik’-ku itu.

Ia berdiri di tepi kasur dengan boneka beruang berwarna putih yang masih setia didekapnya. Kilat matanya meredup tatkala aku sudah berada tepat dihadapannya. Aku meletakkan telapak tanganku tepat didepan dahinya—memastikan ia baik baik saja saat ini.

“Kau demam lagi, Yoojung-ah?” tanyaku sembari menatap manik obsidiannya. Ia hanya mengangguk lemas sembari memelukku erat. Aku menghela nafas sejenak sebelum akhirnya aku ikut mendekap tubuh kecilnya. Usiaku dan adikku hanya berjarak dua tahun. Itu berarti usianya saat ini menginjak tiga tahun.

Sama sepertiku, dia bocah tiga tahun yang masih menyukai boneka boneka beruangnya. Sama sepertiku, dia bocah tiga tahun yang masih menyukai bagaimana ia bermain pesta minum teh bersama kumpulan boneka barbie-nya. Sama sepertiku, dia bocah tiga tahun yang sangat suka dimanja.

Sama sepertiku, bocah tiga tahun—yang membutuhkan kasih sayang.

Aku melepaskan pelukanku dan mendekap bahunya—mensejajarkan wajahku tepat didepan wajahnya. “Baiklah, ayo kita turun dan ambil beberapa roti dan obat,ne?”

Yoojung mengerutkan alisnya sembari menggelengkan kepalanya tanda tidak setuju atas keputusanku tadi. “Aku takut, Oppa!”

“Kita akan baik baik saja, Yoojung-ah. Oppa berjanji padamu!” ujarku padanya sembari memasang senyuman terbaik di bibirku. Yoojung menatap wajahku lekat lekat. Tak perlu ditunggu lama, akhirnya Yoojung mengangguk-kan kepalanya setuju.

Tanpa aba aba aku-pun meraih tangannya dan menggenggamnya erat. Menjaga ia dari segala hal buruk yang terjadi.

Entah bagaimanapun, aku sudah berjanji padanya bukan?

.

.

.

PRANGG!

Yoojung menarik tanganku—mengisyaratkan aku untuk berhenti sejenak dan cepat bersembunyi. Tanpa di komando dua kali akhirnya aku menarik tubuh kecil Yoojung menuju lemari kecil tempat dimana kami sering bersembunyi—dan mengisyaratkan dirinya untuk bersembunyi terlebih dahulu.

‘Oppa, kau mau kemana, eoh?! Cepat masuk!’ bisik Yoojung sembari terus menarik tanganku. Aku melepaskan genggaman tangannya dari tanganku dan mengisyaratkan dirinya supaya tenang terlebih dahulu.

‘Lemari ini sudah tak cukup untuk kita berdua, aku akan bersembunyi di lemari yang lain.’ Bisikku berusaha menjelaskan. Yoojung lagi lagi mengerutkan alisnya—kilat matanya meredup, ia terlihat sangat khawatir. ‘Tenang, oppa akan berhati-hati.’

Yoojung hanya terdiam menatapku. Selang beberapa lama akhirnya ia menganggukkan kepalanya. Aku tersenyum melihatnya, tanganku bergerak untuk mengelus surai kehitaman miliknya.

‘Apapun yang terjadi, jangan keluar dari lemari ini, arra?’

BRAKK!

Aku tersentak kaget untuk yang kesekian kalinya—dengan sigap kututup pintu lemari Yoojung rapat rapat dan segera mencari lemari kosong untuk bersembunyi. Beruntunglah dapur ini memiliki banyak lemari kosong sehingga aku tak perlu susah-susah mencari lemari kosong untuk bersembunyi.

Aku bersembunyi disalah satu lemari kosong tepat bersebrangan dengan lemari kecil tempat Yoojung bersembunyi. Kalau saja badanku tidak bertambah besar, aku akan bersembunyi disana bersama Yoojung.

“KAU BILANG INI BERSIH?! APA KAU BERCANDA?!”

Bak halilintar suara itu menumbuk keras gendang telingaku. Melalui celah celah lemari aku berusaha melihat sosok pemilik suara halilintar tadi. Iris mataku membulat tatkala sosok pemilik suara halilintar itu adalah sosok yang paling kutakuti selama hidupku.

Sosok yang selalu datang dalam mimpi burukku. Sosok yang selalu menghantui foto keluargaku. Sosok yang selalu menciptakan badai dalam kediaman keluargaku.

Sosok yang sering kusebut dengan ‘Ibu’.

Sosok yang paling mengerikan di dalam kamus hidupku.

PRANGG!

Lagi lagi sosok bernama ‘ibu’ itu melemparkan barang barang yang ada di sekitarnya. Dan aku bisa melihat jelas ia sedang melemparkan gelas gelas kepunyaan ‘Ayah’. Sedangkan sosok ‘Ayah’-ku hanya bisa memandangi sosok ‘Ibu’-ku dengan kilatan penuh penyesalan pada iris hitamnya. Ia hanya bisa menundukkan kepalanya menyesali perbuatannya.

Dan lagi lagi hanya itu yang bisa ia perbuat.

Aku dapat melihat jemari lentik ibu bergerak memilah pecahan gelas yang tercecer di lantai. Ia meraih pecahan gelas yang paling besar dan mengarahkannya tepat di depan wajah ayah. Aku menutup mataku, tak mau menyaksikan pemandangan mengerikan yang tersaji di depan mataku.

“Hentikan!”

Aku membuka mataku terkejut begitu mendengar suara yang sudah tak terdengar familiar oleh telingaku. Dan aku mencoba melihat apa yang terjadi diluar sana melalui celah celah lemari—alangkah terkejutnya diriku ketika aku dapat menyaksikan sosok kecil adikku tengah berdiri dengan beraninya dihadapan sosok ‘Ayah’ dan ‘Ibu’-ku. Kedua tangan kecilnya mengepal—mendadakan ia sedang marah sekarang.

“Ibu tak bisa menyiksa ayah seperti itu terus!”

Aku tahu—dari nada suaranya sebenarnya ia tak berani untuk mengatakan hal itu. Tapi apa yang dikatakannya sangatlah benar.

Ibu yang selalu menyiksa ayah. Ibu yang selalu menyakiti ayah. Ibu yang selalu melukai ayah.

Ibu yang selalu membenci ayah…

“KAU BERANI APA, HAH?!”

Yoojung membungkam mulutnya mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh sosok ‘Ibu’ di hadapannya. jika aku yang ada disana—aku juga tak tahu harus menjawab apa.

Pasalnya, aku sangat takut pada ibuku. Sangat teramat sangat takut!

Pada usia lima tahun—aku terbentuk menjadi pribadi yang 90% takut dan 10% benci kepada ibunya sendiri. Manis bukan?

“T-tolong h-hentikan ini, i-ibu.”

Oh tidak! Yoojung! Cepat menyingkir dari situ! Sudah kubilang bukan supaya tak keluar dari lemari?!

Oh tidak! Tuhan, tolong selamatkan Yoojung! Kalau saja kaki ini mau bergerak—kalau saja tangan ini tak berhenti bergetar—kalu saja jiwa ini mau memberanikan diriku untuk keluar—kalau saja..

“KYAHHH!!!”

Terlambat.

Haha, kau terlambat Song Joong Ki. Lihat, pecahan beling itu sudah mendarat tepat di kedua mata adikmu.

Dan entah kenapa aku hanya tertawa melihatnya.

Tertawa.

Tertawa.

Dan kemudian tertawa.

Tertawa seperti orang yang kesetanan. Tertawa seperti orang yang mengalami gangguan jiwa.

Dan pada akhirnya aku menyadari sebuah fakta..

Pada usia lima tahun—aku belajar untuk 40% membenci ibuku dan 60% untuk menakuti ibuku. Manis bukan?

.

.

.

Aku menatap gadis cantik di hadapanku lekat lekat. Memerhatikan kecantikan yang memancar dari wajahnya. Yah, walaupun, kedua matanya harus ditutup dengan kain perban—toh hal itu takkan mengusik ke cantikan dirinya. Mungkin.

Kau ingat bukan siapa gadis itu?

“Yoojung-ah, pelajaranmu hari ini apa saja, um?” aku menyergah tas coklatnya—mengeluarkan buku buku pelajarannya yang sebenarnya tak mungkin ia baca itu dan memasukkan kembali beberapa buku pelajaran yang sekiranya akan dibutuhkan Yoojung hari ini.

“Ah oppa—biasanya kau hafal, kan?” celetuknya sembari menarik ujung bibirnya kesal. Aku hanya terkekeh geli melihatnya. Ne, adikku benar benar sangat menggemaskan. Dan aku sangat menyayanginya.

Aku tak mau kehilangan dirinya lagi—cukup matanya saja yang hilang, aku tak mau kehilangan sosok Yoojung dari hidupku.

“Kajja! Kita berangkat!”

Aku menggenggam tangannya erat dan menuntunnya berjalan menuju pintu belakang.

Jika kalian bertanya kenapa kami tidak menggunakan pintu depan jawabannya sangat sederkana, tak lain karena kami masih menakuti sosok bernama ‘Ibu’-tadi. Kini sudah 13 tahun semejak kejadian itu—dan kami, masih saja menakuti sosok ‘Ibu’-kami.

Melalui halaman belakang kami dapat melihat ibu tengah berjalan bersama kerumunan teman temannya—sepertinya mereka mabuk. Pasalnya cara berjalan mereka sedikit aneh. Yah selalu seperti ini, malam hari ibu akan pergi ke club bersama teman temannya dan pulang pada pagi hari. Apakah ibu tidak letih dengan semua ini?

“Hey Sora—siapa itu, heh?! Anakmu?!” teriak salah satu teman ibu sembari menunjuk kami. Akupun hanya mengabaikannya. Toh, jawabannya pasti sama..

“Bodoh! Itu anak pembantuku!”

 

Dan pada usia 18 tahun…

aku belajar untuk 70% membenci ibuku dan 30% untuk takut padanya.

.

.

.

Annyeonghaseyo! Kim Jiwon-imnida!”

Aku membulatkan bola mataku tidak percaya. Apa katanya? Kim Jiwon? Kim Jiwon yang itu-kah? Kim Jiwon yang dulunya pindah ke Tokyo itu?! Kim Jiwon.. sahabat masa kecilku itu…kah?

“Joong ki-ya!” aku tersadar dari lamunanku, dan dengan segera aku mengadahkan kepalaku—menatap gadis cantik yang tengah melambai lambaikan tangannya kearahku, tentu saja dengan senyuman manis yang masih menempel di bibir tipisnya.

Well, Bukannya aku tidak senang, tapi aku tidak percaya.
Aku tidak percaya akhirnya aku bisa bertemu dengan sahabat masa kecilku—yang meninggalkanku pergi ke Tokyo saat aku berusia 4 tahun. Dan akhirnya—kita bertemu kembali di bangku SMA? Oh tuhan, kau pasti bercanda!

Setelah di beri intruksi oleh guru-ku akhirnya ia berlajan dengan riang menuju bangku kosong di sebelah-ku. Tanpa seizin-ku ia langsung duduk di sana dan meletakkan tas coklatnya diatas meja.

“Joong ki-ya! Kau tak mengingatku? Aku Kim Jiwon! Aigoo!” Jiwon melambai lambaikan tangannya di depan wajahku yang kini terlihat sangat ekhem—bodoh itu.

Aku menatapnya dari bawah sampai atas. Kalau dilihat lihat, Kim Jiwon ini tak berubah banyak. Poni lucunya masih bertenger di rambutnya, bentuk wajahnya masih terlihat cantik dan manis—mungkin, hanya tingginya saja yang bertambah.

“Kau benar benar Kim Jiwon?”

Aish, memangnya aku terlihat seperti Kim Jiwon palsu, eoh?!”

Hahaha, benar juga. Ini dia, Kim Jiwon. Sahabat masa kecilku. Sahabatku yang lucu dan cantik. Tak salah lagi! Ini dia orangnya!

Dengan hati berbunga bunga akhirnya aku mendekap tubuhnya dalam pelukanku, menandakan bahwa aku tak mau kehilangan dirinya lagi. Ini dia, orang ketiga yang paling aku cintai setelah Yoojung dan tentu saja…

Ayah.

.

.

.

“Terimakasih, Joong ki.”

Aku mengangguk mengiyakan, dengan hati hati kubersihkan luka di sekitar bibir ayah dengan kapas. Sedangkan ayah hanya meringis menahan sakit. Aku jadi iba melihatnya.

Selalu saja begini, entah apa yang dilakukannya, ibu selalu menyiksa ayah. Membuat ayah terluka. Dan akulah yang menjadi malaikat penolong ayah. Pasalnya, keadaan Yoojung yang sudah tak bisa melihat membuat ia tak bisa membersihkan luka luka di sekitar tubuh ayah.

Sempat terpikirkan olehku—apakah ayah tidak kesakitan disiksa ibu setiap harinya?
Jika aku bertanya pada ayah, jawabannya sangat sederhana, ‘Tentu saja sakit, Joong ki.’

Kadang sempat terpikirkan juga olehku—kenapa ayah tak menceraikan ibu saja?
Jika aku bertanya pada ayah, jawabannya juga sangat sederhana, ‘Itu karena ayah masih mencintai ibu.’

Lalu, sempat terpikirkan olehku—kenapa ayah masih mencintai ibu yang membenci ayah?
Jika aku bertanya pada ayah, ayah akan membungkam mulutnya. Mungkin, ia tak punya jawaban untuk pertanyaanku barusan.

“Lebih baik, hari ini ayah beristirahat dulu, luka di perut ayah belum sembuh.” Ujarku perlahan sembari merapihkan peralatan peralatan madis dan memasukkannya kembali kedalam kotak P3K milikku.

“Tapi—ibumu..”

Aku menepuk bahunya pelan dan menyunggingkan senyuman terbaik di bibirku, “Tenanglah, Ayah. Aku akan mengurus ibu saat ayah beristirahat.”

Aigoo Joong ki.. kau anak yang baik!”

Aku.. tidak sebaik itu ayah. Aku bukan anak yang baik—bahkan aku adalah seorang anak yang membenci ibunya sendiri.  

.

.

.

Aku mengangkat kain putih yang basah itu dan meletakkannya keatas jemuran. Well, nyonya besar yang kusebut ‘Ibu’-itu menyuruhku untuk mengerjakan pekerjaan rumah, termasuk—menjemur pakaian seperti ini. Ah, Pokoknya aku tidak boleh pergi ke ruang tengah! Katanya sih ada tamu. Kalau tidak salah namanya… Kim Woo Bin. Aku mendengar namanya saat ibu menelepon barusan. Dan dari nada suaranya, Ibu terdengar seperti menggoda tamunya itu.

Hei! Jangan jangan ibu-ku perempuan jalang?

Hahahaha! Bisa saja!

Iya juga ya? Hahaha! Dasar jalang!
Hahaha! Iblis kau!
Hahahaha! Mati saja sana!

—Dan lagi lagi aku hanya tertawa seperti orang yang kesetanan. Ah, senang sekali rasanya  setelah menghina si perempuan itu! Padahal dia ibuku sendiri. Manis bukan?

“Joong Ki-ya!”

Telingaku menangkap sebuah suara yang tak terdengar asing lagi di telingaku. Ya ya! Aku sering sekali mendengar suara ini! Terutama di Seko—

“Jiwon! Hei, kenapa kau ada disini?” aku menaruh baju terakhir keatas jemuran dan segera menghampirinya, sedangkan Jiwon hanya menyerngitkan alisnya tak mengerti melihatku yang terlihat acak acakan seperti ini.

Lho, aku hanya menemani ayahku untuk bertemu kenalannya. Kau sendiri? Ini rumahmu? Jangan jangan yang dimaksud kenalan ayahku adalah ibumu?”

Aku terdiam mendengar penuturan yang diucapkan Jiwon barusan. Jadi… Kim Woo Bin adalah… Ayah Jiwon? Aish, kenapa aku baru tahu sekarang!

“Bagaimana kabar Sora-ahjumma? Aish, sudah lama aku tak bertemu ibumu! Ibumu pasti bertambah cantik ya?”

Dan Kim Jiwon ini adalah orang ketiga yang mengetahui siapa sosok ibuku yang sebenarnya. Orang lain mengira ibuku sudah meninggal. Padahal, ibuku tinggal di satu rumah yang sama denganku. Walaupun kedudukan kami sekarang berbeda.

Yah, mau bagaimana lagi. Ibu sudah mengecap ayah, Yoojung, dan aku sebagai pembantu di dalam rumah ini. Dan bagaikan sebuah kerajaan, Ibu adalah rajanya. Ibu yang paling berkuasa di rumah ini. Tidak ada yang berani melawan ibu. Yah, termasuk aku.

“Jiwonnie—kau berbicara pada siapa, eoh?”

Tiba tiba seorang pria tampan datang menghampiri kami—dan tepat disebelahnya.. itu adalah nyonya besar yang sering aku panggil ‘Ibu’. Ibu melemparkan tatapan tajamnya kearahku, namun sepertinya hanya aku yang menyadarinya.

“Itu siapa—Sora?”

Ah aku tahu, jawabannya pasti..

“Itu anak pembantuku,”

Benar kan?

Ekh?! Bukannya Joong Ki anak ahjumma? Sora Ahjumma kan ibunya Joong Ki!” kali ini Jiwon angkat bicara. Ukh—lebih baik aku menjaga jiwon sekarang, jika eomma marah, ia bisa melakukan hal yang tidak tidak kepada Jiwon. Tapi sepertinya—Ibu tak akan seberani itu, pasalnya tepat disebelah ibu adalah seorang Kim Woo Bin—yang lebih jelasnya lagi ia adalah Ayah Jiwon.

“Ini Jiwon, ingat kan-ahjumma? Kita pernah merayakan ulang tahun Joong Ki yang ke-empat bersama sama, ingat kan, ahjumma?”

Hahaha, 1-0 untuk Kim Jiwon. Sepertinya Ibuku kalah telak di tangan Jiwon.

Mwo? Kau punya anak? Kau bilang kau belum menikah dan masih single?! Tapi—apa maksudnya ini?!” kali ini ayah Jiwon yang angkat bicara, ia berbicara dengan intonasi yang lebih tegas dari biasanya. Ada sedikit nada marah dalam bicaranya. Sepertinya ia mulai muak pada ibu.

“I-itu.. A-aku..”

“Jiwon! Ayo pergi!”

Sang Ayah akhirnya menarik Jiwon pergi menuju mobilnya. Meninggalkan aku dan ibu berdua di halaman belakang.

“Aku membenci kalian!”

/Aku lebih membenci-mu, ibu./

.

.

.

“Aku pulang!”

….Hening.

Sama sekali tak ada sahutan. Biasannya aku pulang bersama Yoojung, tapi tadi pagi dia sempat terkena demam sehingga aku menyuruhnya untuk beristirahat dirumah. Dan, sama sekali tak terdengar suara ayah. Biasanya Ayah akan menyambutku dengan segelas susu coklat panas khas buatannya. Apakah dia sedang sibuk?

Aku membuka pintu kamar Yoojung dan tak menemukan Yoojung berada disana. Aku mengerutkan dahiku tak mengerti. Yoojung tidak berani keluar kamar jika ia sakit—tapi kenapa ia malah tidak ada di kamarnya?

Akhirnya, aku memutuskan untuk mencari mereka terlebih dahulu. Aku menaruh tasku di atas meja dan memulai pencarianku. Aku cari mereka di halaman depan, di ruang tamu, ruang keluarga—

“Ayah!”

Aku menjerit tatkala melihat ayah tergeletak tak berdaya di depan pintu kulkas. Banyak sekali darah yang mengucur deras dari kepalanya. Aku merundukkan badanku, memerhatikan luka di kepala ayah. Sepertinya, kepala ayah terbentur sesuatu. Tapi itu tidak mungkin! Atau jangan-jangan..

Ibu?

Apakah semua ini ulah ibu?

Aku yang panik segera merengkuh tubuh ayah dan mengguncang-guncangkan bahunya dengan kedua tanganku. Berharap ayah segera sadar. Dan untunglah tuhan masih mengabulkan permintaanku.

“J-joong..Joong Ki..”

“Ya, Ayah! Ini Joong Ki!” ujarku sedikit panik seraya menyenderkan punggungnya pada pintu kulkas di belakangnya.

“Y-Yoojung.. Uhuk!” ayah memuntahkan darah dari mulutnya, membuat tanganku ikut terkena darah yang sedikit lengket dari mulutnya. Namun tidak ada waktu untuk mengurusi hal semacam itu.

“Ne! Kenapa dengan Yoojung ayah?”

“I-Ibu-mu.. Uhuk.. ba..ha..ya…”

Detik selanjutnya, ayah memejamkan matanya kembali. Dan entah kenapa, air mata-ku merambas membasahi pipiku. Aku-pun juga tak tahu kenapa. Mungkin, inilah rasanya jika aku kehilangan orang yang aku cintai.

Dan aku mendapat sebuah fakta

Pada usia 18 tahun aku sudah belajar untuk membenci ibuku dan sedikit takut padanya.

.

.

.

Aku menemukan Ibu tengah menjambak rambut panjang Yoojung dan memasukkan kepala Yoojung secara paksa kedalam kolam renang. Dengan gunting yang masih bertenger di tangan kanannya ia berusaha memotong rambut indah Yoojung secara paksa. Membuat kulit kepala Yoojung sedikit terkelupas berkat bilah tajam itu.

Mataku memanas. Entah apa yang membuatku begitu benci melihat ibuku saat ini!

Aku berlari kearahnya dan menendang kepala ibuku sehingga ia ikut tercebur kedalam kolam renang. Aku menarik tangan Yoojung dengan sigap dan menariknya menuju pinggir kolam renang.

Dan tampaknya ibu semakin geram saja melihatku.

Hahaha, biar saja dia marah denganku!

Biar saja dia membenciku!

Toh, aku lebih benci padanya.

Dengan beraninya aku menarik kepala ibuku dan membenturkan kepalanya menuju dinding kolam renang dengan sekuat tenaga.

JDAKK!

Ini untuk mata Yoojung..

JDAKK!

Yang ini untuk Nyawa ayah..

JDAK!

Yang ini untuk apa saja yang kau lakukan terhadap kami!

Dan aku terus membenturkannya ke dinding itu, membuat tengkoraknya sedikit retak berkatku. Dan lagi lagi aku hanya tertawa seperti orang kesetanan.

Tertawa seperti orang berkelainan jiwa.

Hahaha! Sangat menyenangkan sekali melihatnya tersiksa! Rasanya aku masih ingin membawa mayatnya dan menyiksanya di tempat yang berbeda! Mengelupas kukunya, mencincang ususnya, menusuk jantungnya—

Pasti menyenangkan! Hahaha!

Dan lagi lagi..aku menyadari sebuah fakta..

Pada usia 18 tahun—aku benar benar membenci ibuku dan sama sekali tak takut padanya!

Inilah kisah hidupku…

Manis, Bukan?

THE END

Advertisements

2 thoughts on “[REPOST FF] MY MOM”

  1. Hai, Jii~~~ well, aku udah baca ini di IFK, tapi cuma setengah. Dan sisanya aku rampungkan di sini. Wah, kamu hobi banget bikin genre kaya gini ya?
    Sebel tahu sama karakter Kang Sora. Dia ibu atau apa sih kok tega banget sama anak dan suaminya sendiri? Menurutku, kamu lumayan berhasil membentuk karakter Kang Sora-nya, soalnya aku sampai gemes sendiri bacanya..
    Ini masih mending dari ceritanya kamu yang sebelumnya, ini lebih ringan lah.
    Ini keren banget! Terus berkarya dan semangat ya, Jii! 😀

    1. wks~ genre apa eonnie? TuT Ini ga thriller kok~
      Hehe._.)v gereget ya?
      x3 hihi~ gomawo eonniee 😀
      Jii jadi termotivasi /? :3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s